Yasraf A. Piliang
Sebuah lukisan tidak saja sebuah ungkapan, tetapi juga sebuah ‘pernyataan’ (statement), sebuah produk ‘wacana’ (discourse) atau sebuah ‘tuturan’ (enunciation). Artinya, tidak saja seorang seniman mampu ‘berbicara’ melalui lukisannya, akan tetapi lebih jauh lagi, lukisan itu sendiri yang seakan-akan ‘berbicara’ kepada para pengamatnya. Begitu juga, tidak saja sebuah lukisan ‘berdialog’ dengan pengamatnya, akan tetapi elemen-elemen bentuk yang membangun sebuah lukisan ‘berbincang’ di antara sesama mereka.
Karena lukisan adalah sebuah wacana, ia memerlukan ‘bahasa’ untuk mengungkapkan pesan atau maknanya. Lukisan adalah eksplorasi segala ‘kekuatan bahasa’ (the power of language), apakah itu bahasa verbal (tulisan), bahasa tubuh atau gesture (lukisan figuratif), bahasa bentuk (shape), bahasa ruang (proxemics), bahasa tekstur atau bahasa warna. Ada lukisan yang memanfaatkan segala potensi bahasa ini; meskipun, ada pula yang menggunakan bahasa secara lebih efisien (misalnya hanya ‘bahasa warna’ saja) tetapi mampu secara efektif mengungkapkan makna.
Dalam konteks inilah, lukisan dapat dipandang sebagai sebuah ‘wacana’, yang melibatkan bahasa, dialog, pertukaran dan interaksi di antara elemen-elemen yang membangunnya, dan antara elemen-elemen lukisan dengan para pengamatnya. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan ada ‘dialog’ antara warna dan warna lainnya, antara warna dan tekstur, antara warna dan bidang, antara warna dan kedalaman (space). Artinya, warna atau bidang itu kini dapat diperlakukan secara metafora sebagai sebuah ‘sosok’ atau ‘figur’, menggantikan figur sebenarnya di dalam lukisan figuratif.
Kejujuran Warna
Karya-karya lukisan Baron Basuning merupakan upaya intensif mengeksplorai ‘bahasa’ seni secara efisien dan efektif, dengan menggunakan bahasa ‘minimalis’ tetapi dengan efek makna maksimal. Ketimbang menampilkan hiruk pikuk bentuk, figur, sosok, objek, kota, alam atau peristiwa, Baron mengeksplorasi warna sebagai sebuah kekuatan bahasa, yaitu kekuatan ‘bahasa warna’, yang dikombinasikan dengan bahasa bidang, tekstur dan kedalaman. Dalam hampir seluruh lukisannya, warna seakan-akan ‘berbicara’ sesama mereka, dan dengan para pengamatnya.
Warna-warna tampil secara otentik, tidak ‘menumpang’ pada bentuk. Warna-warna yang otonom. Warna dikatakan menumpang pada bentuk, ketika maknanya didominasi oleh makna bentuk itu sendiri. Warna-warni pada pakaian seorang badut, hanya sebagai elemen pendukung dari kekocakan bahasa tubuh dan gestur badut itu sendiri. Kelucuan badut yang utama, warna adalah pendukungnya. Warna ‘otonom’ adalah warna yang ‘ada pada dirinya sendiri’ (being itself), tanpa bergantung pada elemen-elemen lain di luar dirinya.
Dalam terminologi semiotika, warna sebagai tanda (sign) tampil melalui ‘kualitas’ yang melekat pada dirinya sendiri, tidak ditentukan oleh asosiasi atau konvensi-konvensi sosial. Kualitas yang inheren pada sebuah entitas tanda ini disebut qualisign. Qualisign memungkinkan warna sebagai sebuah tanda ‘berbicara’ melalui kualitas-kualitas yang dimilikinya sendiri.[1] Warna ‘bertutur’ tentang dirinya sendiri, ‘berbicara’ melalui bahasanya sendiri, dan membentangkan ‘horizon maknanya’ sendiri. Misalnya, warna putih yang ingin mengungkapkan kualitas ‘keputihannya’ yang sejati, sebagaimana lukisan Mencari Putih 1 dan Mencari Putih 2.
Dengan memperlakukan warna seakan-akan sebagai sosok yang ‘hidup’, Baron mampu menggelar semacam ‘wacana warna’ (discourse of colours) di dalam karya-karyanya. Terjadi ‘dialog’ antara warna dan warna lainnya, warna dan bidang, warna dan tekstur, atau warna dan kedalaman ruang. Ada dialog intensif antara bidang merah muda di atas latar belakang ungu muda di dalam True Colour 1; ‘percakapan’ antara bidang hijau lumut dengan hijau lumut lainnya di dalam latar belakang ruang kepekatan hitam di dalam True Colour 2; atau, dialog yang lebih ‘ramai’ di antara berbagai bidang dan noktah warna hijau, kuning, coklat muda, kuning tanah di dalam kegelapan hitam di dalam Searching True Colour.
Karena warna adalah sebuah ‘sosok’ yang ‘hidup’, Baron sangat cermat dan akurat dalam menampilkan warna. Kita berhadapan dengan warna merah, hijau, kuning, coklat, hitam atau putih yang tidak ‘biasa-biasa saja’, tetapi sangat ‘spesial’. Inilah warna-warna yang mempunyai kekuatan ‘pada dirinya sendiri’, yang ‘berbicara’ melalui kekuatan bahasanya sendiri, bukan warna yang terikat oleh kode-kode sosial: merah tanda berani, hijau lambang ekologi, kuning simbol partai, dst. Di sinilah kita dapat mengatakan warna berbicara secara ‘otentik’, tidak ‘bersembunyi’ di balik bentuk, di balik sosok, di balik objek, di balik peristiwa. Inilah warna-warna yang ‘jujur’ (the true colours).
Horizon Warna
Sebuah lukisan adalah sebuah cara membentangkan ‘dunia’: dunia sosial, dunia politik, dunia spiritualitas, dunia puisi, dst. Artinya, melukis adalah upaya menemukan sebuah ‘kemungkinan dunia’ (a possible world), dengan lukisan sebagai manifestasinya. Melalui ‘dunia’ yang dikonstruksi di dalam sebuah lukisan, pelukis hendak memberi makna pada kehidupan dan eksistensinya. Sebuah lukisan adalah sebuah ‘teks’, yang melaluinya pelukis ingin menampilkan ‘kemungkinan baru dunia’, kemungkinan pemahaman dunia (understanding) melalui kekuatan imajinasi dan bahasa. [2]
Dunia kemungkinan hanya dapat dibangun melalui dua mekanisme saling berkaitan, yaitu melalui ‘pembentangan horizon’ (horizon of expectation) dan ‘pembingkaian (framing). ‘Pembingkaian’ adalah proses menampakkan sesuatu yang relevan dan ‘menyembunyikan yang tak relevan.[3] ‘Membingkai’ berarti ‘menyusun’ sesuatu di dalam ‘garis batas’, untuk menghasilkan sebuah asosiasi atau konotasi.[4] Hasilnya adalah sebuah ‘susunan’ atau ‘tatanan’yang terbentuk di dalam batas-batas. Pembingkaian adalah cara melihat diri kita sendiri di dalam dunia yang kita konstruksi, agar melaluinya kita dapat memaknai dunia.
Akan tetapi, seniman ingin keluar dari segala bingkai, dengan berupaya membentangkan seluas-luasnya horizon. ‘Horizon’ adalah rasa kemenyeluruhan (sense of wholeness), yang mengintegrasikan makna eksistensial seniman. Di dalam horizon itulah seniman merangkai visi, membangun makna, merajut nilai, mengukir keyakinan. Horizon memberi seniman sebuah rasa ‘kemenyeluruhan’ atau ketakberhinggaan (infinity). [5] Horizon memungkinkan seniman memahami dunia dalam keutuhan dan kemelingkupannya. Proses berkarya dapat dipandang sebagai tegangan (tension) antara membuka horizon dan membingkai.
Melalui karya-karyanya, Baron tampak ingin melepaskan diri dari berbagai ‘bingkai’ (bingkai sosok, objek, sosial, tubuh, alam), untuk membentangkan horizon kemungkinan dunia yang seakan tak berbatas dan tanpa batas, yang dibangun oleh kekuatan bahasa warna, bidang, tekstur dan kedalaman. Keluasan horizon itu memang dibingkai oleh format lukisan berbentuk segiempat, akan tetapi bingkai itu tidak menghalangi Baron untuk membentangkan keluasan imajinasi dan kekuatan bahasa warna, untuk menciptakan semacam ‘horizon warna’ atau bahkan ‘kosmologi warna’, yaitu sebuah jagat visual yang di dalamnya berlangsung interaksi dan dialog yang intens antara warna dan elemen-elemen visual lainnya, yang mampu membentangkan makna kehidupan yang sejati [ ]
[1] Charles S. Peirce, Selected Writings, Dover Publication Inc., New Yorkk, 1966, hlm. 384
1991, hlm. 86
Sydney, 1990, hlm.164
London, 1988, hlm. 85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar