SEBUAH mesin cuci putih berukuran besar. Punya kaca bulat yang biasa dipakai untuk mengintip kondisi cucian. Anehnya, yang dicuci bukan pakaian, seperti kita temui di keseharian. Melainkan, kepala-kepala manusia yang dicuci dengan gerak memutar.
Lukisan 150 x 160 cm itu tampaknya ingin menghadirkan kesan mencuci otak dengan gambaran kepala berwarna merah yang terlihat lugas. Pesan dan penggambaran ini agaknya cukup sederhana menerjemahkan sebuah kegiatan mencuci. Dibuat seniman Ade Artie berjudul Deterjen Proof.
Lainnya, ada karya Andi Suandi berjudul Peziarah tt VII. Semua kanvasnya nyaris hitam. Di tengah, hanya ada goresan tipis cat akrilik berwarna putih. Lukisan abstrak ini, menurut Andi, juga berkaitan dengan kegiatan mencuci. "Ini sebuah ungkapan personal tentang mencuci diri sendiri. Mencuci rasa atau hati. Maka itu, ada nuansa kedalaman yang saya buat," ujar Andi.
Lukisan itu lantas diberi nama Peziarah, karena dia percaya tiap manusia memiliki perjalanan hidup yang di tempuh masing-masing. Andi mengistilahkannya dengan sebutan pejalan cahaya. Karena itu, lukisan dibuat dalam 42 kanvas kecil yang disusun membentuk persegi. "Tiap kotak melambangkan bentuk perjalanan atau segmen kehidupan yang dilampaui manusia," jelasnya.
Kedua lukisan ini hadir dalampameran Deterjen di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16-30 Juli 2010. Ada 27 karya dari 27 seniman dari Jabodetabek. Kebanyakan merupakan seniman senior. Hanya beberapa saja yang masih muda. Di antaranya Adi Kara, Baron Basuning, lpe Maaruf, Ipong Purnama Sidhi, Sonny SK, Yoes Rizal dan H Hardi.
Menurut Mervvan Yusuf, kurator pameran, Deterjen merupakan wujud keresahan pelukis melihat situasi negara yang karut-marut. Dari kasus korupsi, kerusuhan di Koja, hingga penganiayaan aktivis Indonesia Corruption Watch beberapa minggu lalu.
Deterjen, yang identik dengan kegiatan mencuci, disimbolkan sebagai harapan bagi terwujudnya clean government dan kebersihan moral. "Pameran ini sebagai metafora bahwa kita harus membersihkan moral kita.
Moralnya saja. Kepintaran, pengetahuan, dan keahlian kita tak kalah dengan bangsa lain. Moralnya saja yang rusak," ujar Merwan.
Deterjen merupakan pameran pertama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) setelah vakum sejak 2006. Bagi Firman Ichsan, ketua DKJ, ini merupakan sebuah awal untuk kembali menempatkan peran DKJ sebagai salah satu wadah apresiasi bagi seniman. "Tentu tak bisa seperti dulu, saat DKJ dan TIM menjadi pusat seni di Jakarta. Kini sudah banyak galeri berkembang dan kita senang akan hal itu," ujarnya. (*/M-5)
dikutip dari : http://bataviase.co.id/node/310446
Lukisan 150 x 160 cm itu tampaknya ingin menghadirkan kesan mencuci otak dengan gambaran kepala berwarna merah yang terlihat lugas. Pesan dan penggambaran ini agaknya cukup sederhana menerjemahkan sebuah kegiatan mencuci. Dibuat seniman Ade Artie berjudul Deterjen Proof.
Lainnya, ada karya Andi Suandi berjudul Peziarah tt VII. Semua kanvasnya nyaris hitam. Di tengah, hanya ada goresan tipis cat akrilik berwarna putih. Lukisan abstrak ini, menurut Andi, juga berkaitan dengan kegiatan mencuci. "Ini sebuah ungkapan personal tentang mencuci diri sendiri. Mencuci rasa atau hati. Maka itu, ada nuansa kedalaman yang saya buat," ujar Andi.
Lukisan itu lantas diberi nama Peziarah, karena dia percaya tiap manusia memiliki perjalanan hidup yang di tempuh masing-masing. Andi mengistilahkannya dengan sebutan pejalan cahaya. Karena itu, lukisan dibuat dalam 42 kanvas kecil yang disusun membentuk persegi. "Tiap kotak melambangkan bentuk perjalanan atau segmen kehidupan yang dilampaui manusia," jelasnya.
Kedua lukisan ini hadir dalampameran Deterjen di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16-30 Juli 2010. Ada 27 karya dari 27 seniman dari Jabodetabek. Kebanyakan merupakan seniman senior. Hanya beberapa saja yang masih muda. Di antaranya Adi Kara, Baron Basuning, lpe Maaruf, Ipong Purnama Sidhi, Sonny SK, Yoes Rizal dan H Hardi.
Menurut Mervvan Yusuf, kurator pameran, Deterjen merupakan wujud keresahan pelukis melihat situasi negara yang karut-marut. Dari kasus korupsi, kerusuhan di Koja, hingga penganiayaan aktivis Indonesia Corruption Watch beberapa minggu lalu.
Deterjen, yang identik dengan kegiatan mencuci, disimbolkan sebagai harapan bagi terwujudnya clean government dan kebersihan moral. "Pameran ini sebagai metafora bahwa kita harus membersihkan moral kita.
Moralnya saja. Kepintaran, pengetahuan, dan keahlian kita tak kalah dengan bangsa lain. Moralnya saja yang rusak," ujar Merwan.
Deterjen merupakan pameran pertama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) setelah vakum sejak 2006. Bagi Firman Ichsan, ketua DKJ, ini merupakan sebuah awal untuk kembali menempatkan peran DKJ sebagai salah satu wadah apresiasi bagi seniman. "Tentu tak bisa seperti dulu, saat DKJ dan TIM menjadi pusat seni di Jakarta. Kini sudah banyak galeri berkembang dan kita senang akan hal itu," ujarnya. (*/M-5)
dikutip dari : http://bataviase.co.id/node/310446
Tidak ada komentar:
Posting Komentar